Infaq & Sedekah

Rp0

Rp5 Milyar

0%

Bagikan Ke Facebook, Twitter, atau Google Plus Setara Donasi Rp 1.000.000. Faktanya 70% pendonor berasal dari link yang Anda sebar di media sosial. Ayo sebarkan, agar mencapai targetnya.

Informasi

INFAQ & SEDEKAH

Jika zakat terbatasi pada ketentuan nishab dan haul, infaq dan shadaqah dapat dilakukan kapan saja tanpa batasan jumlah. Rasulullah Muhammad SAW selalu mendorong umatnya berinfaq dan shodaqoh baik di kala lapang maupun sempit. Donasi yang terkumpul dikelola secara amanah dan profesional untuk dikembalikan ke masyarakat yang membutuhkan dalam program-program populis dan pemberdayaan, seperti pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, maupun aksi sosial.

Pada hari ini kesadaran ummat untuk berinfaq sudah sangat menggembirakan. Hal ini salah satunya berkat andil para da’i yang mengajak untuk berinfaq dalam berbagai pengajian dan ceramah-ceramah mereka. Dan juga munculnya berbagai buku yang memaparkan berbagai fadhilah shadaqah dan infaq.
Tapi yang menjadi keprihatinan kita adalah masihnya banyaknya ummat yang berinfaq pada jalan-jalan yang kurang bermanfaat atau bahkan jalan yang dibenci islam. Banyak yang berinfaq untuk mensukseskan acara sedekah desa yang demeriahkan dengan biduan-biduan wanita dan juga wayangan. Dan banyak pula yang berinfaq pada hal yang sifatnya hura-hura dan tidak ada manfaatnya kecuali hanya menghambur-hamburkan harta.
Disisi yang lain ada juga yang mengelurkan harta pada hal yang kurang prioritas. Naik haji berkali-kali dan bahkan menjadi sebuah acara rutin sementara orang-orang miskin di sekitarnya membutuhkan uluran tangan darinya. Ada proyek-proyek dakwah yang terbengkalai karena dana yang menipis dan lain sebagainya. Sedekah memang sesuatu yang diperintahkan islam, tetapi amat sangat mulia lagi jika seseorang tepat dalam menyalurkan infak mereka.

 

Bentuk-bentuk infaq

Melalau tulisan ini kita akan membahas jalan-jalan shadakah dan infaq agar infaq yang kita salurkan lebih bermanfaat terhadap islam dan ummatnya. Infaq di jalan Allah memiliki bentuk yang bermacam-macam. Kitab Allah dan Rasulullah telah memberitahukannya kepada kita. Di antara bentuk-bentuk tersebut adalah sebagai berikut:

Berinfaq untuk kepentingan jihad. Jihad adalah pintu yang sangat lebar untuk berinfaq. Baik itu dari zakatmal yang wajib maupun sedekah sukarela. Bahkan, makna yang langsung masuk ke dalam pikiran ketika mendengar kata infaq fi sabilillah adalah infaq untuk jihad dan mujahidin. Dan, bagian sabilillah yang berhaq menerima zakat dalam ayat zakat pada umumnya adalah jihad.
Mencurahkan harta untuk menyiapkan pasukan dan mujahidin dihitung jihad serta orang yang melakukannya dihitung sebagai seorang mujahid dan seorang prajurit perang. Ia mendapatkan pahala sama dengan para mujahidin yang berperang di medan jihad. Dalam hadits shahih,
“Siapa yang menyiapkan pasukan perang di jalan Allah, maka ia telah ikut berperang.” (HR. Muslim) Menginfaqkan harta pada keluarga mujahidin untuk memenuhi kebutuhan mereka berupa makanan, minuman, pakaian dan lain sebagainya adalah jihad. Rasulullah bersabda : “Dan siapa yang menanggung keluarga orang yang sedang berjihad, maka ia telah ikut berjihad.” (HR. Muslim)

Berinfaq untuk kelurga, yaitu istri dan juga anak-anak.Islam memerintahkan seorang bapak untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. Bahkan dianggap dosa jika ia menelantarkan keluarga dengan tidak memberikan mereka nafkah atau pelit terhadap mereka. Bahkan sampai-sampai islam menjadikan rizki yang dimasukkan ke dalam mulut seorang istri menjadi sedekah, sebagaimana dalam hadis ;إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ     Sesungguhnya, tidaklah engkau mengeluarkan nafkah dengan mengharap wajah Allah kecuali engkau diganjari pahala atasnya hingga sesuatu yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu. [HR Al-Bukhari]  Dan jika suami pelit, istripun boleh mengmbil uang suami sekedarnya untuk memenuhi kebutuhan diri dan anak-anaknya. Sebagaimana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda dalam hadistnya;  Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, bahwa Hindun binti Utbah mengadukan perihal suaminya (Abu Sufyan) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah seseorang yang pelit. Dia tidak memberikan harta yang cukup untuk kebutuhanku dan anak-anakku, kecuali jika aku mengambilnya tanpa sepengetahuannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan, “Ambillah hartanya, yang cukup untuk memenuhi kebutuhanmu dan anak-anakmu, sewajarnya.”   Walau demikian tidak diperbolehkan seseorang untuk memanjakan keluarga dan membelikan seluruh yang diinginkan mereka sehingga menjadikan seseorang pelit untuk berinfaq demi tegaknya islam di bumi.

Infaq untuk kepentingan umum.  Diantara bentuk infaq yang diterima adalah berinfaq untuk kepentingan umum seperti infaq pada yayasan-yayasan umum yang bermanfaat. Khususnya yayasan sosial seperti masjid, madrasah, rumah yatim, rumah sakit, dan rumah penampungan umum yang menjadi tempat berlindung para pengungsi dari serangan musuh. Maka, boleh mengalokasikan sebagian dari bagian (fi sabilillah) untuk yayasan-yayasan ummat. Sebagaimana disunnahkan menginfaqkan harta pada proyek-proyek umum yang memenuhi keperluan hajat manusia seperti menggali sumur untuk minum manusia dan mengalirkan sumur dan mata air. Diantara contohnya adalah yang di lakukan oleh Utsman bin Affan di sumur Raumah.Imam al Baghawi telah meriwayatkan dari jalan Basyir bin Basyir al Aslami dari ayahnya bahwa ketika para muhajirin sampai madinah mereka kesusahan mendapatkan air. Ada seorang lelaki dari Ghiffaryang memiliki sumur yang di sebut Raumah. Ia menjual satu timba dengan satu mud. Rasulullah bersabda,”Apakah kau mau menjualnya kepadaku dengan sumur di surga?” ia menjawab, “Wahai Rasulullah, aku dan keluargaku tidak memiliki selain ini.” Hal itu sampai pada telinga Utsman. Dia lalu membelinya dengan tiga puluh lima ribu dirham. Ia lalu mendatangi Nabi Salallahu’alaihi wasallam, dan berkata,”Apakah kau menjadikan untukku pada sumur ini seperti apa yang kau lakukan padanya?”. Nabi menjawab , ”Ya.” Utsman lalu berkata, “Aku jadikan ia untuk kaum muslimin.”

Berbuat baik pada keluarga dekat dan membantu mereka dengan member infaq kepada mereka.Hal itu termasuk bentuk infaq dalam kebaikan. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah ditanya tentang shodaqoh kepada kerabat dekat( yang bertanya adalah seorang istri tentang shodaqoh kepada suaminya yang kurang mampu) menjawab : baginya dua macam pahala, pahala shodaqoh dan pahala menyambung silaturrahim. HR.Muttafaq alaih

 

 

 

Demikian juga berinfaq pada tetangga serta memberi hadiah kepada mereka. Memang terkadang mereka tidak memerlukan, tetapi silaturahmi dan berinfaq kepada mereka adalah termasuk jenis kebaikan yang biasa melunakkan hati. Demikian juga berbuat baik kepada tetangga dan memberi hadiah kepada mereka. Karena islam berwasiat agar berbuat ikhsan kepada tetangga. Rasulullah bersabda :

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِى بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Tidak henti-hentinya Jibril berwasiat kepadaku dengan tetangga sampai aku menyangka bahwa ia akan mewarisi.” (HR. Muslim)

Memuliakan tamu dengan memberi makan mereka dan berinfaq kepada mereka adalah kewajiban.

Seorang muslim akan mendapatkan pahala jika menjalankan kewajiban ini. Rasulullah bersabda :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir , maka muliakanlah tamunya.” [ HR. Bukhori ]

Bersedekah kepada orang yang membutuhkan, fakir miskin, ibnu sabil, membayar hutang orang fakir yang tak sanggup dibayar.

Orang yang berinfaq untuk itu akan mendapat pahala. Baik itu dengan mengucurkan zakat mal atau zakat fitrah atau dengan sedekah secara sukarela.

Infaq kepada penuntut ilmu, khususnya ilmu-ilmu syari’ah.

Juga infaq kepada para dai yang menyebarkan dakwah islamiah. Atau, infaq dengan cara membelikan kitab-kitab islamiah dalam pelbagai cabang disiplin ilmu dan melengkapi perpustakaan umum dengan kitab-kitab itu agar dapat dimanfaatkan untuk riset dan pengajaran.

Demikian pemaparan tentang jalan-jalan shadaqah. Sebagai penutup, marilah kita renungkan hadsit Rasulullah sallallahu alaihi wasallam berikut;

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417, dari Abi Barzah Al Aslami. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Jadi, harta yang kita keluarkan akan ditanyakan besuk pada hari kiamat. Apakah di keluarkan pada jalan yang benar ataukah pada jalan kemaksiatan dan kemungkaran. Dan orang yang terbiasa menegeluarkan harta pada jalan yang salah akan berat rasanya mengeluarkan pada jalan yang haq. Kita memohon pada Allah Ta’ala untuk menghalalkan harta kita, dan membimbing kita agar rajin berinfaq pada jalan yang diperintahkan.

Cara Infaq :
Langsung datang ke kantor Divisi Infaq & Sedekah Jamiyah Tahfidz Quran
Setoran dititipkan kepada Relawan Divisi Infaq & Sedekah Jamiyah Tahfidz Quran
Transfer ke Rekening BRI No Rek. 0090.01.020741.53.2 atau BNI No Rek 77777.0781 a/n Jamiyah Tahfidz Quran

 

Donatur (0)

Infaq & Sedekah

Nama Waktu Donasi

LAZISWAF adalah Lembaga Amil Zakat, Infaq, Sedekah dan Wakaf dibawah pengawasan Jamiyah Tahfidz Quran yang dikelola oleh Alumni Universitas Al Azhar Kairo Mesir  mendakwahkan Al Quran sebagai solusi dan inspirasi untuk negeri.

Jl Sucipto Rt 04 Rw 04 Lk Parse Dawuhan Kecamatan Situbondo Kabupaten Situbondo Jawa Timur Indonesia 68311
  • Kami tersedia untuk melayani Anda
    Senin - Jumat 08:00 - 17:00 WIB

  • Kirim kami email. Kami akan berusaha membalas secepatnya.


TAUTAN